PEMUDA IDEAL BAGI PENGUASA
Oleh ; Ust. Felix Siauw
Wajah itu nampak bercahaya, berpadu dengan wajah yang selalu basah oleh air wudhu, Lisannya terus berdzikir saat sendiri, dan tersenyum saat berjumpa
Al-Quran pun terlihat sering digenggamnya, kadang ia sedikit risih bila bertemu lawan jenis, bukan tak suka tapi menjaga pandangan, khawatir akan zina mata
Ia remaja namun pikirannya menembus umurnya, bicaranya tentang ummat Musim sedunia, diskusinya tentang bagaimana kembali membangkitkan ummat Muslim
Tapi yang begini tidak ideal bagi penguasa, mereka dianggap benih radikal yang siap tumbuh menjadi teroris di masa depan, perusak keberagaman dan aktor intoleransi
Paras itu tidak menenangkan, persis seperti buah tangannya yang kontroversial. Sesekali dia mengutip pemikir liberal, lain kesempatan juga megidolakan paar atheis
Tongkrongannya di kafe-kafe kekinian, dengan obrolan bahasa asing dengan logat british biar terkesan eksis. Kata-kata kasar khas barat disisipkan, biar seperti film Holywood
Wacananya menembus budaya ketimuran, lebih parah lagi mempertanyakan agama, katanya 'menantang kejumudan beragama', biar dikata progresif dan kontekstual
Tapi yang begini ideal bagi penguasa. Dia diundang menteri agar jadi remaja Muslim contoh, bahkan diapresiasi Presiden, meski ternyata propagandanya banyak plagiasi
Sudah lihat kemana arah penguasa kini? Mereka namakan itu sebagai usaha deradikalisasi. Sebab yang mereka anggap radikal adalah mereka yang perhatian pada Islam
Mereka menduga keras semakin seseorang Islamis, semakin dekatlah dia menjadi radikalis. Maka tanpa perlu penelitian panjang, de-radikalisasi itusebenarnya de-Islamisasi
Karenanya ulama harus diwaspadai, yang membela Islam mesti ditandai, ormas yang taat syariat mesti dibubarkan, dan lebih dini lagi rohis sekolah mesti diawasi
Dan angkat mereka yang menyuarakan selain Islam, pokoknya asal jangan Islam. Syiah dan komunis dianggap wacana, pluralisme dianggap penyelamat
Tapi Allah tidak tidur, sekuat apapun mereka ingin memadamkan cahaya Islam, Allah tak berkehendak kecuali menyempurnakan cahayanya, semoga Allah istiqamahkan kita.






No comments